Ketupat di Pulau Nain

Tradisi merayakan Hari Raya Lebaran Ketupat juga terdapat di Pulau Nain. Pulau yang masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Wori, Minahasa Utara ini dikenal sebagai salah satu pulau penghasil rumput laut dengan kualitas terbaik. Pulau Nain (Desa Nain) juga masuk dalam kawasan Taman Nasional Bunaken.

Perayaan Lebaran Ketupat yang dilaksanakan tepat 1 minggu setelah Idul Fitri merupakan ajang open house bagi umat muslim yang merayakannya. Pada Lebaran ini, sajian nasi ketupat  menjadi wajib adanya. Semua orang yang merayakannya, wajib pula membuka pintu rumahnya untuk disinggahi siapa saja yang datang bertamu.

Foto dan teks: EDWIN D. NGANGI

 1

1. Tamu-tamu yang berasal dari Manado, Desa Arakan (Minahasa Selatan) serta pulau-pulau sekitar berdatangan ke Pulau Nain dengan menggunakan moda transportasi berupa Perahu dengan motor tempel. Juga ikut pejabat Kabupaten Minahasa Utara yang merupakan wilayah administrasi Pulau Nain berada.

 

2

2. Panitia dan maysarakat Pulau Nain menjemput para tamu di salah satu dermaga yang ada. Lamanya jam bertamu sangat ditentukan oleh pasang surut air laut.

 

3

3.  Pintu gerbang sebagai simbol ucapan selamat datang siap menyambut tamu yang datang. Keakraban tercipta dengan canda tawa yang terpancar antara tuan rumah dan tamu.

 

4

4. Sebelum sampai ke rumah yang mengundang, para tamu ‘dipaksa’ mencicipi hidangan yang disajikan di depan rumah setiap keluarga. Selesai menyantap makanan yang disajikan oleh tuan rumah, para tamu kembali diajak berkeliling untuk mencicipi hidangan di tiap meja yang dilewati.
Tamu yang hadir bukan saja yang terundang tetapi siapa saja yang berkesempatan bisa datang  bersilahturahmi pada perayaan Lebaran Ketupat di Desa Nain.

 

4a

5.  Meja penuh hidangan dan siapa saja tamu yang datang dipersilahkan untuk menyantapnya.

 

4b 6. Para tamu terus berkeliling sepanjang jalan desa yang telah dipasang tenda, mencicipi setiap makanan yang tersaji.

 5

7. Keluarga Lato – Rondonuwu, salah satu dari tuan rumah sedang menyiapkan makanan. Menu yang disajikan umumnya merupakan hasil laut seperti ikan ibakar, bia kima, telur ikan terbang (Antoni) dan jenis lainnya, sebagaimana Pulau Nain yang dikenal sebagai penghasil komoditas dari laut.

 

6

8. Sempatkan diri untuk mengunjungi sumur ‘aer jere’ yang berada di tepi pantai tetapi berair tawar. Sumur ini tidak pernah kering walaupun di musim kemarau, dan dapat memenuhi akan kebutuhan air masyarakat Desa Nain.
Konon Aer jere berkhasiat bagi yang belum mempunyai anak, dengan cara langsung meminumnya.
Untuk menimba air harus menggunakan timba dari daun woka ( Palem Serdang, ‘Livistona rotundifolia’).

 

79.  Setelah berkunjung, berkeliling, dan makan, para tamu masih diberi bekal perjalanan, serta bungkusan yang berisi ikan asin dan ikan roa (Ikan Julung-julung yang diasap).

 

8

10.  Saat kedatangan, para tamu dijemput oleh panitia, tetapi disaat pulang diantar oleh keluarga pengundang.

2 responses to “Ketupat di Pulau Nain

  1. Pulau Nain adalah salah satu pulau-pulau kecil yang terletak di bagian Utara Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara, dan berada disekitar Taman Nasional Bunaken. Situasi pulau Nain dari segi geografis ditetapkan sebagai wilayah penyangga bagian Utara dari Taman Nasional Bunaken. Pulau Nain terdiri dari: Pulau Nain besar dengan luas sekitar 166,0 Ha dan terdapat pemukiman yaitu desa Nain, serta pulau Nain kecil dengan luas sekitar 2,5 Ha dan tidak terdapat pemukiman. Jarak dari ibukota propinsi (Manado) kira-kira 21 km dengan lama tempuh perjalanan menggunakan transportasi laut umum 3 jam, menggunakan speedboat 3 x 40 pk selama 1 – 1,5 jam. Penduduk p. Nain terisolasi secara alamiah karena untuk masuk ke desa Nain tergantung air pasut (pasang surut), nanti saat air pasang baru ada aktifitas keluar-masuk. Hal ini disebabkan karena kondisi pulau Nain dikelilingi oleh barier reef (terumbu penghalang) yang pada surut terendah mengalami kekeringan.
    Mata pencahaarian utama penduduk p. Nain adalah Nelayan & pembudidaya Rumput laut.

    Ciri khas perayaan lebaran ketupat di desa Nain selain ulasan di atas adalah setiap jalan/lorong dibuatkan tenda berbentuk setengah bulat yang dibuat sambung menyambung sebagai tempat penyajian makanan. Setiap tamu/pengunjung dipersilakan untuk mencicipinya.

    • Banyak hal yang saya inikmati dan pelajari di Pulau Nain yang bentuk pulaunya terlihat seperti sadel sepeda. Memasuki perairan P. Nain, mata saya disuguhi oleh luasnya arael budidaya rumput laut (seluas 166 Ha), walaupun dari kejauhan yang terlihat hanyalah botol-botol air mineral yang mengapung. Perairannya yang jernih menyejukkan mata dan terumbu yang mengelilingi P.Nain dapat terlihat dengan jelas. Di sepanjang pantai terdapat rumah-rumah tiang yang didirikan berderet-deret di atas air yang merupakan pemukiman khas suku Bajo yang difungsikan oleh penduduk sebagai tempat untuk tinggal, menjemur ikan dan juga rumput laut yang akan dikeringkan.

      Luangkanlah waktu untuk mengunjungi P.Nain sekedar untuk menikmati keindahan P. Nain, atau menikmati keramaian dan ragamnya jenis makanan yang disajikan pada perayaan ketupat, terutama olahan rumput laut yang dibuat “podeng” secara tradisional oleh penduduk sangat sayang untuk tidak dicicipi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s