Minahasa War Dance

Micksy Pandi - Minahasa War Dance

Tarian ini merupakan tarian keprajuritan tradisional Minahasa, yang diangkat dari kata Wasal, yang berarti ayam jantan yang dipotong jenggernya agar supaya sang ayam menjadi lebih garang dalam bertarung.

Tarian ini dimainkan secara berkelompok. Para penari memakai pakaian merah, mata melotot, diiringi tambur atau gong kecil sembari menyandang pedang dan tombak tajam,  dengan diiringi suara tambur dan / atau gong kecil. Alat musik pukul seperti Gong, Tambur atau Kolintang yang disebut “Pa’ Wasalen” dan para penarinya disebut Kawasalan, yang berarti menari dengan meniru gerakan dua ayam jantan yang sedang bertarung.

Kata Kawasalan ini kemudian berkembang menjadi Kabasaran yang merupakan gabungan dua kata “Kawasal ni Sarian.”  Kawasal berarti menemani dan mengikuti gerak tari, sedangkan Sarian adalah pemimpin perang. Lalu kemudian perkembangan bahasa melayu Manado mengubah huruf “W” menjadi “B” sehingga kata itu berubah menjadi Kabasaran, yang sebenarnya tidak memiliki keterkaitan apa-apa dengan kata “besar” dalam bahasa Indonesia, namun akhirnya menjadi tarian penjemput bagi para Pembesar-pembesar.

Foto by  MICSKY PANDI pada 27 Juli 2011 saat acara pembukaan Probinas UNIMA.

One response to “Minahasa War Dance

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s