Menambang Kehidupan di Kawah Ijen

Photo dan Teks: ANTON VINCENT ACVARA
Editor: Ronny A. Buol

  #1 - KawaH Ijen
#1 – PUNCAK KAWAH IJEN

Kawah Ijen adalah sebuah danau kawah yang bersifat asam yang berada di puncak Gunung Ijen, Jawa Timur, memiliki tinggi 2368 meter di atas permukaan laut dengan kedalaman danau 200 meter dan luas kawah mencapai 5466 Hektar. Kawah Ijen berada dalam wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Dari pusat Kota Banyuwangi dapat ditempuh selama 2,5 jam perjalanan. Medan yang berat, mengharuskan kita menggunakan kenderaan 4 wheel atau motor bertipe trail untuk mencapai kawahnya. Medannya cukup berat dan licin. Sudah pernah dibuat jalan aspal, tetapi saat sekarang jalan tersebut telah rusak.

Mulai dari kaki gunung, kita akan langsung berhadapan dengan kondisi jalan yang hancur, yang panjangnya mencapai sekitar 15 km. Jarak itu belum sampai ke puncaknya, melainkan sampai rest area/parking area, yang merupakan pemberhentian terakhir seluruh jenis kendaraan. Di area tersebut hanya ada satu warung makanan yang menjual nasi goreng, mie instant dan beberapa jenis gorengan serta minuman, yang dijual dengan harga yang sangat wajar.  Untuk mencapai puncak kawah Ijen, kita harus berjalan kaki menempuh jarak kurang lebih 4 km.

#2 - Titik Start
#2 –  TEBING YANG CURAM

Kawah Ijen dilihat dari puncak Gunung Ijen sangat mengangumkan. Kawah Ijen merupakan danau yang besar yang berwarna hijau kebiruanan dengan kabut dan asap belerang yang sangat mempesona. Suhu udaranya sangat dingin, berkisar pada 10 derajat celcius bahkan bisa mencapai 2 derajat.

Sebagai penghasil belerang, kawah ijen dijadikan tambang bagi masyarakat setempat. Dengan mempertaruhkan nyawa para penambang memulai aktivitasnya dari puncak ini. Menuruni tebing yang terjal menuju kawah yang ada dibawahnya. Selain tebing yang curam, ancaman lainnya datang dari asap panas yang dapat muncul setiap saat yang disemburkan dari kawah.

Mengantisipasi asap panas yang sering muncul tiba-tiba itu, penambang memakai baju kaos yang telah dibasahkan terlebih dahulu. Namun, dari penelitian medis yang dilakukan terhadap para penambang, rata-rata mereka mengalami pembesaran paru-paru karena terus menghirup uap belerang.

Perhatikan beberapa jenis kayu beberapa yang hangus menghitam oleh karena panasnya uap belerang. Ada satu gejala alam yang aneh di tempat ini, apabila kita mencelupkan sebatang besi ke dalam kawah yang airnya selalu mendidih dan berwarna hijau, besi tersebut tidak lama akan membara dan hancur seperti besi yang ditempa di pandai besi, namun jika kayu yang dicelupkan, wujudnya masih berupa kayu secara utuh, namun berubah menjadi hitam karena hangus.

 #3 - Bersiap menuju tempat penimbangan
#3 – BERSIAP MENUJU TEMPAT PENIMBANGAN

Menjalani hari yang berat, membuat penambang ini memikul hasil tambangnya seolah tanpa beban. Ekspresinya selalu tersenyum dan menyapa setiap orang yang berpapasan. Mereka tidak terlihat terengah-engah meskipun beban yang dipikulnya berat.

Dalam perjalanan menuju tempat penimbangan, para penambang sering membawa 1 sampai 2 belerang cetak, yang dibentuk serupa burung, bintang, kepiting dan lain-lain, yang diletakkan dalam pikulannya. Mereka mencetaknya langsung ketika mereka masih berada di sekitar kawah. Belerang yang tercetak ini sering ditawarkan kepada wisatawan yang mengunjungi kawah ijen dengan harga Rp. 5.000 per buah.

#4 - Telanjang Dada
#4 – TELANJANG DADA

Bekerja di daerah yang bersuhu dingin dengan resiko yang berat menjadikan para penambang bersahabat dengan alam. Lihatlah mereka yang bertelanjang dada saat bekerja. Mereka tak pernah lagi berpikir akan terserang masuk angin, rheumatic apalagi bronchitis, sementara udara dingin cukup menusuk tulang.

 #5 Base Penimbangan
#5 – BASE PENIMBANGAN BELERANG

Inilah tempat penimbangan belerang sebelum dipikul kembali ke tempat pengepul belerang yang berada di rest area/parking area. Jarak dari puncak kawah sampai ke tempat ini kurang lebih 1,5 km dan merupakan medan terberat bagi para penambang.
Dari base ini mereka akan memikulnya lagi menempuh jarak 2,5 km menuju rest area/parking area.

#6 Melepas Lelah
#6 – SEJENAK MELEPAS LELAH

#7 Menunggu Giliran
#7 – MENUNGGU GILIRAN MENIMBANG

Perhatikan senyum mereka. Mereka tak pernah mengeluh oleh karena keadaan. Sukacita senantiasa meliputi mereka, meskipun sesungguhnya apa yang telah mereka kerjakan dengan segala resikonya yang besar, tidak sebanding dengan perolehannya. Sementara ketika belerang tersebut telah berubah wujud menjadi barang kosmetik, harganya akan mencapai puluhan ribu rupiah. Sungguh ironis.

 #8 Ayo timbang
#8 – AYO TIMBANG

Besarnya penghasilan mereka sangat bergantung pada beban yang dapat mereka pikul. Hal yang membedakan seorang penambang dengan yang lainnya berkaitan dengan beban yang dipikul, adalah faktor postur tubuh dan usia. Menurut penjelasan mereka, rata-rata terendah beban yang mereka pikul adalah seberat 65kg, dan yang terberat mencapai 100kg.

Saya menyempatkan untuk mencoba memikul beban seberat 65kg (berat saya 80kg), tidak lebih dari dua langkah, pikulan langsung saya turunkan oleh karena terasa sangat berat, dan pundak saya sakit menahan beban.
 #9 Menuju Pengumpulan
#9 – Satu kilometer menuju tempat pengumpulan belerang.

#10 Jalan Licin
#10 – Rp. 600 / kg.

Hanya kekuatan yang dari Tuhanlah yang membuat mereka mampu melakukan ini. Lihatlah penambang yang mengenakan celana pendek ini saat menunaikan tugasnya. Ketika melintas, saya sempat memperhatikan kedua betisnya, astaga! terlihat berotot dan keras seperti kayu. Bayangkan betapa berat beban yang ada dalam pikulannya, dan pekerjaan ini dilakukannya setiap hari.
Jalan yang curam, licin dan berliku-liku mereka lalui dengan hati-hati, demi Rp. 600,-/kg belerang yang akan mereka dapatkan setelah sampai di bawah.

Taken date: Desember 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s